Makalah PAI Persatuan dan Kerukunan
Makalah PAI Persatuan dan Kerukunan
MAKALAH PAI
PERSATUAN DAN KERUKUNAN
DISUSUN OLEH :
Nur Eka Novianti
Kelas : XII IPS 3
SMA PASUNDAN 2 BANDUNG
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT. Tuhan semesta alam yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis berhasil menyusun makalah
ini yang berjudul “Amal shaleh Persatuan dan Kerukunan”. Walau pun dalam proses
penyusunan makalah ini penulis mendapatkan beberapa hambatan dan masalah tetapi
dengan bantuan beberapa pihak dan atas seidzin zat yang maha kuasa akhirnya
penulis berhasil menyusun makalah ini.
Makalah ini
dibuat sebagai tugas kelompok PAI semester ganjil dan juga di
gunakan sebagai pelengkap materi diskusi yang akan dilaksanakan ketika jam
pelajaran PAI.
Semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan
makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan, oleh karena kritik
dan saran dari pembaca sangat diharapkan dan akan diterima penulis dengan
senang hati demi penyempurnaan makalah ini di masa mendatang.
Bandung, 04 Oktober 2013
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL……………………………………………………………… 1
KATA PENGANTAR……………………………………………………………. 2
DARTAR ISI……………………………………………………………………… 3
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………….………… 4
1.1 Latar Belakang………………………………………………………… 4
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………… 4
1.3 Tujuan………………………………………………………………….. 4
1.4 Manfaat………………………………………………………………… 5
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………...………. 6
2.1 Amal Shaleh……………………………………………………………. 6
2.2 Karakteristik dan Nilai Positif Amal Saleh……………………....……….. 6
2.3 Membiasakan Amal Saleh…………...……………………….………… 8
2.4 Persatuan dan Kerukunan……………………………………..………… 8
2.5 Perilaku
Terpuji Persatuan dan Kerukunan ……………………..……… 11
2.6 Perilaku Persatuan dan Kerukuan dalam Kehidupan Sehari-hari….....…… 12
2.7 Penerapan Perilaku…………………………………………………….. 14
2.8 Hikmah persatuan dan kerukunan………………………………...……... 15
BAB III PENUTUP……………………………………………………….………. 16
3.1 Kesimpulan …………………………………………………………… 16
3.2 Saran…………………………………………………………...…….. 16
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………….. 17
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengertian akhlak itu bermacam-macam pendapat. Akhlak pada
umumnya menerangkan tentang perilaku atau perbuatan manusia. Akhlak itu sangat
penting bagi manusia. Akhlak manusia itu ada dua, yaitu akhlak yang baik dan
akhlak yang buruk. Akhlak merupakan kehendak manusia dan sumber akhlak pun
bermacam-macam.
Untuk meraih kesempurnaan akhlak, seseorang harus melatih
diri dan membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang harus
melatih diri dan membiasakan diri berfikir dan berkehendak baik. Akhlak seseorang
bukanlah tindakan yang direncankan pada saat-saat tertentu saja. Akhlak juga
merupakan keutuhan kehendak dan perbuatan yang melekat pada seseorang yang akan
tampak pada perilakunya sehari-hari.
Akhlak juga memiliki istilah lain yaitu etika, moral dan
kesusilaan. Akhlak itu tersumber dari agama dan dari bukan agama. Akhlak bagi
manusia itu sangatlah penting, karena sifat seseorang itu akan terlihat dari
akhlaknya. Banyak manfaat yang didapat dari ilmu tentang akhlak.
Kerukunan adalah adanya suasana persaudaraan dan kebersamaan
antar semua orang walaupun mereka berbeda secara suku, agama, ras, dan
golongan. Kerukunan juga bisa bermakna suatu proses untuk menjadi rukun karena
sebelumnya ada ketidakkerukunan serta kemampuan dan kemauan untuk hidup berdampingan
dan bersama dengan damai serta tenteram (berhubungan dengan Pancasila sila 1
yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut.
1. Apa yang dimaksud
dengan Akhlak Persatuan dan Kerukunan?
2. Bagaimana penerapan
Akhlak Persatuan dan Kerukunan dalam kehidupan sehari-hari?
3. Apa nilai positif dari
Akhlak Persatuan dan Kerukunan?
1.3 Tujuan
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan tujuan
sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui pengertian Akhlak Persatuan dan
Kerukunan.
2. Untuk mengetahui bagaimana penerapan Akhlak
Persatuan dan Kerukunan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Untuk mengetahui nilai positif dari Akhlak Persatuan
dan Kerukunan.
1.4 Manfaat
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan manfaat
sebagai berikut.
1. Mengetahui apa yang
dimaksud dengan Akhlak Persatuan dan Kerukunan.
2. Mengetahui Bagaimana
cara penerapan Akhlak Persatuan dan Kerukunan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Mengertahui nilai
positif yang terkandung dalam Akhlak Persatuan dan Kerukunan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Amal Saleh
1. Pengertian Amal Shaleh
Kata
amal shaleh di dalam Al-Qur’an disebutkan berulang kali, dan hampir di pastikan
selalu beriringan dengan kata iman. Itu menunjukkan karena hanya orang-orang
yang beriman lah yang mampu melaksanakan amal yang shaleh. Lebih dari 400
tempat dalam Al-Qur’an di temui kata-kata mengenai amal, dan sebagian besar
beriringan dengan kata As-salihah, yang berarti kebaikan-kebaikan. Banyaknya
perkataan tersebut menunjukkan tentang pentinnya makna yang terkandung dalam
perkataan amal.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, amal diartikan sebagai perbuatan (baik
atau buruk) perbuatan baik mendatangkan pahala, suatu yang ditujukan untuk
mendatangkan kebaikan terhadap masyarakat atau sesama manusia. Sedangkan secara
istilah, amal saleh berarti perbuatan sungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah
atau pun menunaikan kewajiban agama yang dilakukan dalam bentuk berbuat
kebaikan terhadap masyarakat atau sesama manusia.
Di
lihat dari sudut syariah, amal merupakan unsur yang pokok. Dalam Al-Qur’an
banyak dijumpai perkataan amal dengan berbagai bentuknya, seperti : ‘amila,
‘amala, ta’malun, ya’malun, ‘amilun, ‘amalus salihat, dan ‘amalus sayyi’at.
2.2 Karakteristik dan Nilai Positif Amal Saleh
Secara umum pengelompokan amal terbagi dua, yaitu amal saleh (amal yang baik)
dan ‘amalus sayyi’ah (amal yang buruk). Amal saleh ialah segala perbuatan kebajikan
yang mendatangkan manfaat untuk diri sendiri, keluarga, bangsa, dan manusia
seluruhnya. Baik berupa perbuatan, perkataan , maupun sikap. Bahkan tidak
melakukan perbuatan yang di larang Allah itu pun termasuk Amal saleh.
Al-Qur’an banyak menerangkan tentang manfaat atau nilai positif dari amal
saleh, baik di dunia maupun di akhirat, antara lain :
a. Senantiasa mendapat keberuntungan
Surah Al-Qasas (28) ayat 67
فامامن تاب وامن و عمل صا لحا فعسى ان يكون من
المفلحين ( القصص : ٦٧ )
Artinya : Maka ada pun orang yang bertobat dan beriman,
serta mengerjakan amal kebajikan, maka mudah-mudahan dia termasuk orang yang
beruntung. ( QS. Al – Qasas : 67 )
b. Akan mendapat rahmat dan cinta
Sebagai mana di firmankan Allah SWT. Dalam surah Al-Jaisiyah
(45) ayat 30 sebagai berikut :
ڧاماالذين امنواوعملواالصلحت فيدخلهم ربهم في رحمتهٖ ذلك هوالفوڒالمبين (الجا ثيه : ٣٠)
Artinya : Maka adapun orang-orang yang beriman dan
mengerjakan kebajikan, maka tuhan memasukkan mereka ke dalam rahmatnya (surga).
Demikian itu lah kemenangan yang nyata. (QS. Al-Jaisiyah/45:30)
c. Memperoleh rezeki yang baik
Firman Allah dalam surah Al-Hajj (22) ayat 50
فا الذين أمنواوعملواالصلحت لهم مغڧرةورڒق ڪريم (الحج:٥٠)
Artinya : Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan
kebajikan, mereka memperoleh ampunan dan rezeki dari yang mulia (QS. Al-Hajj/22
:50)
d. Memperoleh keadilan
Sebagaimana surah Yunus (10) ayat 4 mengisahkan
اليه مرجعڪم جميعا
وعدالله حق انه يبدؤاالخلق ثم يعده ليجڒي الذين
امنواوعملواالصلحت بالقسط والذين كفروالهم شراب من حميم وعذاب اليم بما
كنوايكفرون (يونس:٤)
Artinya : Hanya kepada-Nya kamu semua akan kembali. Itu
merupakan janji Allah yang benar dan pasti. Sesungguhnya dialah yang memulai
penciptaan makhluk kemudian mengulanginya (menghidupkannya kembali sesudah
berbangkit), agar dia memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan
mengerjakan kebajikan dengan adil. Sedangkan untuk orang-orang kafir (di
sediakan) minuman air yang mendidih dan siksaan yang pedih karna kekafiran
mereka.
e. Memperoleh ampunan Allah
Firman Allah dalam surah Fatir (35) ayat 7
الذين كفروالهم عذاب شديدوالذين امنواوعملواالصلحت لهم
مغفرةوأجركبير(فاطر:٧)
Artinya : orang-orang yang kafir mereka akan mendapat azab
yang sangat keras. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan,
mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar. (QS. Fatir/35:7)
2.3 Membiasakan Amal Saleh
Beramal saleh merupakan kewajiban bagi setiap manusia, baik sebagai pribadi
yang mencerminkan diri sendiri, maupun selaku umat, kaum dan bangsa. Karena
sesungguhnya amal perbuatan seseorang sangat menentukan statusnya secara
pribadi, kaum, dan bangsa.
Mengerjakan amal saleh hendaknya tidak di sertai pamrih karena ada sesuatu di
balik amalannya. Mengerjakan amal saleh harus di sertai niatan yang ikhlas,
bukan karena mengharapkan pujian, keuntungan, jabatan, dan lain-lain. Karena
sesungguhnya yang di nilai oleh Allah pada amalan seseorang adalah niat dan
tujuannya, sebagaimana di ingatkan allah dalam surah al-mu’minun (23) ayat 40.
2.4 Persatuan dan Kerukunan
Manusia tidak dapat hidup seorang diri tanpa pertolongan orang lain. Hubungan
di antara manusia adalah saling membantu dan menolong (ta’awun), saling
mengenal (ta’aruf)dan saling memenuhi kebutuhan bersama. Hal ini merupakan
kebutuhan yang asasi bagi setiap manusia.
Firman Allah
يأيهاالناس إن خلقنكم من ذكروانثى وجعلنكم شعوباوقباٸل لتعارفواإن أكرمكم عندالله أتقكم إن الله عليم خبير(الحجرات:١٣)
Artinyai : Wahai manusia sungguh, kami telah
menciptakan kamu dari seorang laki – laki dan seorang perempuan, kemudian kami
jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.
Sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
takwa. Sugguh, Allah maha mengetahui, maha teliti (QS. Al-Hujurat/49:13).
1. Pengertian Persatuan
dan kerukunan
a. Pengertian
Persatuan
Didalam kamus besar bahasa Indonesia, arti persatuan adalah
gabungan yang terdiri atas bagian yang telah bersatu. Umat islam, kususnya di
Indonesia hidup rukun dan damai, maka Insyaallah persatuan bangsa Indonesia
akan dapat terwujud.
b. Pengertian Kerukunan
Didalam kamus besar bahasa Indonesia, kata dasar kerukunan
adalah rukun yang artinya hubungan persahabatan, damai dan tidak saling
berselisih. Oleh karena itu tugas pemimpin didalam pemerintah antara lain
adalah berusaha menciptakan kerukunan hidup beragama.
Dengan demikian persatuan dan kerukunan merupakan gabungan
dari berbagai macam unsur yang berbeda yang diikat menjadi satu ikatan yang
menyatu yang lebih mengutamakan aspek kesamaan dibandingkan perbedaan. Dengan
kata lain berbicara persatuan dan kerukunan berarti lebih banyak berbicara
kesamaan dan mengesampingkan perbedaan.
Persatuan dan kerukunan merupakan aspek penting kehidupan.
Rasulullah yang mampu menyatukan kaum anshar dan muhajirin yang memiliki latar
bekakang perbedaan baik secara sosial, politik, geografis maupun secara budaya.
Secara perbedaan itu beliau ikat dalam ikatan keimanan yang ternyata jauh lebih
kokoh dan abadi dibandingkan dengan ikatan-ikatan primordialisme (dasar) yang
lainnya. Bahkan jauh lebih kuat dibandingkan ikatan darah sekalipun. Ikatan
keimanan ini kemudian tumbuh menjadi ukhuwah islamiyah yang sebuah istilah
menunjukkan persaudaraan antara sesama muslim diseluruh dunia tanpa melihat
perbedaan warna kulit, bahasa, suku, bangsa dan kewarganegaraan.
2. Dalil Persatuan dan
Kerukunan
Artinya: orang-orang beriman itu Sesungguhnya
bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu
itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Al-Hujarat:10)
3. Dalil Larangan
bercerai berai:
Artinya: dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama)
Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah
kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah
mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang
yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah
menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya
kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Q.S Al Imron : 103)
4. Perbuatan yang merusak
persatuan dan Kerukunan
Agar persatuan dan kerukunan tetap utuh maka kita harus
menghindari perbuatan yang dapat merusak persatuan dan kerukunan sebagaimana
yang Allah jelaskan dalam Al-Qur’an (Q.S. Al Hujarat:12)
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan
purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan
janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama
lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang
sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Dari ayat diatas apa yang menyebabkan runtuhnya persatuan
dan kerukunan?
a) Memperolok-olok orang lain baik
laki-laki maupun perempuan
b) Mencaci orang lain dengan kata-kata yang
menyakitkan
c) Memanggil orang lain dengan
gelar-gelar yang tidak disukai
d) Berburuk sangka
e) Mencari kesalahan orang lain
f) Menggunjing
5. Persatuan dan
Karakteristik Persatuan dan Kerukunan
Persatuan dalam bahasa arabnya di sebut dengan kat ittihad,
berarti ikatan. Sedang menurut istilah di artikan sebagai bentuk kecenderungan
manusia yang diwujudkan dalam bentuk kegiatan melakukan pengelompokan sesama
manusia menurut ikatan tertentu untuk mencapai tujuan.
Sedang kerukunan yang dalam bahasa arabnya disebut dengan
kata tawafuqun,tawaddun, ittifaqqul kalimat. Sedang menurut istilah
kerukunan dimaksudkan sebagai satu tata pikir atau sikap hidup yang menunjuk
kan kesabarn atau kelapangan dada menghadapi pikiran-pikiran,
pendapat-pendapat, dan pendirian orang. Sedang dalam istilah agama Islam,
kerukunan itu dinamakan tasamuh (toleransi), yaitu membiarkan secara
sadar terhadap pikiran atau pendapat orang lain. Orang yang demikian dinamakan
toleran.
Persatuan dan kerukunan umat merupakan awal dan fondasi
terjalinnya ukhuwah (persaudaraan) dalam masyarakat. Dengan kata lain tanpa
adanya persatuan dan kerukunan dalam masyarakat, akan sulit terwujudnya suatu
ukhuwah dalam masyarakat. Baik yang menyangkut ukhuwwah basyarriyah
(persaudaraan kemanusiaan), ukhuwwah wataniyyah (persaudaraan kebangsaan),
maupun ukhuwwah islamiyyah (persaudaraan sesama muslim).
Nabi SAW. Bersabda
المسلم للمسلم كا لبنيان يشد بعضه بضا (رواه البخارىومسلم)
Artinya : seorang muslim bagi muslim yang lain bagai suatu
bangunan, yang saling menguatkan satu sama lain (HR> Bukhari Muslim).
6. Membiasakan Sikap
Persatuan dan Kerukunan
Pada
umum nya manusia cenderung di kuasai oleh hawa nafsu untuk merasa menang dan
benar sendiri dalam berbagai hal. Supaya persatuan dan kerukunan dapat tegak
dengan kokoh diperlukan empat tiang penyangga yaitu hal-hal berikut :
a. Ta’aruf, yaitu saling kenal
mengenal yang tidak hanya bersifat fisik atau biodata ringkas belaka, tetapi
lebih jauh lagi menyangkut latar belakang pendidikan, budaya, keagamaan,
pemikiran, ide-ide, cita-cita, serta problema hidup yang di alami.
b. Tafahum, yaitu saling memahami
kelebihan dan kekurangan, kekuatan dan kelemahan masing – masing, sehingga
segala macam bentuk kesalahpahaman dapat di hindari.
c. Ta’awun, yaitu tolong menolong
dimana yang kuat menolong yang lemah dan yang memiliki kelebihan menolong orang
yang kekurangan.
d. Takaful, yaitu saling
memberikan jaminan, sehingga menimbul kan rasa aman, tidak ada rasa
kekhawatiran dan kecemasan menghadapi hidup ini, karena ada jaminan dari semua
saudara untuk memberikan pertolongan yang diperlukan dalam menjalani hidup.
Untuk mewujudkan ukhuwah islamiyyah, para pemimpin Islam,
para ulama, tokoh masyarakat, dan para cendikiawan hendaknya mempunyai kesamaan
visi dalam tiga hal yaitu wawasan keagamaan, wawasan kemasyarakatan, dan
wawasan universal.
7. Nilai Positif Sikap
Persatuan dan Kerukunan
Mengandung manfaat atau hikmah yang cukup besar bagi setiap
orang yang mengamal kanny, antara lain.
a. Persatuan dan kerukunan umat merupakan
awal dan fondasi terjalin nya ukhuwah dalam masyarakat.
b. Memperkukuh persatuan dan kesatuan yang
menjadi syarat mutlak untuk mencapai cita-cita yang tinggi dan mulia.
c. Memudahkan seseorang untuk mengais
rezeki, sebab dengan sikap ini akan menjadikan kehidupan tenang serta membangun
kerjasama dan merentas jalan untuk memperoleh rezeki.
d. Menimbulkan ketentraman dan kedamaian
dalam hidup bermasyarakat.
e. Menjadi pilar utama untuk memberdayakan
potensi dan membangun masyarakat kea rah yang lebih maju dan berperadaban.
f. Menjadi tolak ukur solidaritas
kemanusiaan yang akan mengantar kan kea rah kesejehteraan kehidupan dalam
bermasyarakat.
g. Memiliki dampak bagi terciptanya
masyarakat yang beradab dan sebagai sarana mendapat rahmat Allah.
2.5 Perilaku Terpuji Persatuan dan Kerukunan
Persatuan dan kerukunan sangat diperlukan dalam kehidupan
bermasyarakat, sebab terciptanya persatuan dan kerukunan dalam suatu negara
akan menjadikan rakyat nyaman dan tenteram dalam bekerja, menuntut ilmu,
melaksanakan ajaran agama, melaksanakan pembangunan dan lain sebagaianya. Agama
Islam mengajarkan kepada umatnya untuk membina persatuan dan kerukunan. Firman
Allah :
Artinya : Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu
dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara
kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.(Q.S.Al
Hujurot{49}:13).
Ayat tersebut menegaskan bahwa manfaat diciptakan manusia
dengan berbeda-beda suku, bangsa adalah supaya saling mengenal dan memberi
manfaat satu dengan yang lannya.
Pada ayat lain Allah melarang hamba-Nya saling mengolok-olok kaum satu dengan yang lainnya :
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik… ( Q.S. Al hujurot {49} : 11 )
Pada ayat lain Allah melarang hamba-Nya saling mengolok-olok kaum satu dengan yang lainnya :
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik… ( Q.S. Al hujurot {49} : 11 )
2.6 Perilaku Persatuan dan Kerukuan dalam Kehidupan
Sehari-hari
Penerapan perilaku persatuan dan kerukunan dalam kehidupan
sehari-hari dapat digolongkan menjadi tiga yaitu :
1. Kerukunan Umat Seagama
Rasulullah Muhammad SAW diutus oleh Allah bukan hanya untuk
bangsa arab saja, melainkan untuk seluruh manusia dan menjadi rahmat bagi
seluruh alam. Firman Allah :
Artinya : “Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya Aku
adalah utusan Allah kepadamu semua”, ….. (Q.S. Al A’rof {7} : 158 )
Dalam perkembanganya, agama Islam diterima oleh masyarakat
yang berbeda suku, bangsa dan budaya. perberbedaan pengetauan dan pemahaman
masing-masing suku dan bangsa, mendorong munculnya beberapa aliran dalam agama.
Dalam bidang figh terdapat empat madzhab yang sangat populer yaitu ; madzab
Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Keempat madzhab tersebut masing-masing
mempunyai banyak pengikutnya, termasuk bangsa Indonesia. Dalam aqidah terdapat
aliran Jabariyah, qodariyah dan Asy’ariyah, dalam organisasi kemasyarakatan
Islam ada Nahdlotul Ulama’, Muhamadiyah, Persis dan lain sebagainya. Perbedaan
paham tersebut adalah merupakan dinamika umat Islam, sehingga islam benar-benar
menjadi rahmatan lil ’alamin. Perbedaan paham bukan menjadi penyebab permusuhan
dan perpecahan umat. Rasulullah SAW telah bersabda yang artinya “ perbedaan
pendapat pada umat-Ku hendaknya menjadi rahmat”. Dan Allah SWT berfirman :
Artinya : “ Sesungguhnya (agama Tauhid) Ini adalah agama
kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah Aku”. ( Q.S.
Al Anbiya’ {21} : 92 ).
2. Kerukunan Antar Umat
Beragama
Toleransi antar umat beragama telah diajarkan dan
dicontohkan oleh Rasulullah SAW kepada para shahabat dan seluruh umat-Nya.
Misalnya pada masa selesai perang badar, pasukan muslim telah berhasil menawan
pasukan kafir, banyak para shahabat yang menginginkan tawanan tersebut dibunuh,
namun kebijakan Rasul berbeda justru Rasul meminta agar tawanan-tawanan perang
itu dibebaskan.
Agama Islam membolehkan umatnya untuk berhubungan dengan
pemeluk agama lain, bahkan toleransi antar umat beragama sangat dianjurkan oleh
Rosulullah SAW. Batasan toleransi antar umat beragama yang dianjarkan oleh
Rosul SAW adalah dalam batasan mu’amalah, yaitu hubungan kerjasama dalam hal
kemanusiaan. Sedangkan toleransi yang menyangkut dalam hal ibadah dan aqidah
Islam secara tegas melarangnya. Firman Allah :
Artinya :
1). Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
2). Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3). Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah.
4). Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu
sembah,
5). Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan
yang Aku sembah.
6). Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." (Q.S. Al
Kafirun {109} : 1 – 6 ).
Sikap toleransi antar umat beragama dapat ditunjukkan
melalui :
1. Saling menghargai dan
menghormati ajaran masing-masing agama
2. Menghormati atau tidak
melecehkan simbol-simbol maupun kitab suci masing-masing agama.
3. Tidak mengotori atau
merusak tempat ibadah agama oranga lain, serta ikut menjaga ketrtiban dan
ketenangan kegiatan keagamaan.
3. Kerukunan Umat
Beragama dengan Pemerintah
Menurut istilah agama Islam pemerinth disebut ulil amri
(yang memiliki kekuasaan atau mengurusi). Menurut ahli tafsir ulil amri adalah
orang-orang yang memegang kekuasaan diantara mereka (umat Islam), yang meliputi
pemerintah, penguasa, alim ulama dan pemimpin lainnya.
Islam mengajarkan kepada umatnya, bahwa mentaati pemerintah nilainya sama dengan mentaati Allah dan Rasulnya. Firman Allah :
Islam mengajarkan kepada umatnya, bahwa mentaati pemerintah nilainya sama dengan mentaati Allah dan Rasulnya. Firman Allah :
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu…… (Q.S. An Nisa’ {4} : 59).
Ayat tersebut mewajibkan setiap umat Islam wajib patuh
kepada pemerintah, patuh pada peraturan perundangan yang telah ditetapkan oleh
pemerinatah, selama peraturan tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran
agama. Tetapi jika terdapat peraturan yang tidak sejalan dengan prinsip ajaran
agama, umat Islam wajib mengingatkan dengan cara-cara yang baik dan bijaksana.
2.7 Penerapan Perilaku
a. Selalu bertutur kata yang santun dan menghindari
perkataan yang menyakitkan orang lain
b. Karena tersenyum karena hal tersebut termasuk
sedekah dan dapat melembutkan hati seseorang
c. Tidak suka membuka aib orang lain dan selalu berusaha
mendamaikan persengketaan
d. Mampu menghindari diri dari hasutan dan usaha untuk
mengadu domba dan bermusuhan
e. Bersikap ikhlas bila membantu orang yang membutuhkan
f. Tidak membeda-bedakan pergaulan atas dasar status sosial
atau kekayaan, akan tetapi bergaul dengan orang yang saleh dan bertakwa serta
memiliki ilmu pengetahuan yang luas
g. Tidak suka berburuk sangka atau menuduh orang lain karena
akan menimbulkan perasaan sakit hati. Akan tetapi apabila terjadi sebaliknya
terhadap diri kita, maka maafkanlah dan do’akan agar mereka menyadari
kesalahannya.
2.8 Hikmah persatuan dan kerukunan
a. Hidup menjadi damai dan sejahtera
b. Menambahkan sikap saling menghormati dan menghargai
c. Tumbuh rasa aman dalam diri setiap orang karena tidak
memiliki musuh
d. Mendorong kemajuan masyarakat
e. Dengan persatuan dan kesaatuan bangsa menjadi kuat.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Secara istilah amal saleh berarti perbuatan sungguh –
sungguh dalam menjalankan ibadah ataupun menunai kan kewajiban
agama yang di lakukan dalam bentuk berbuat kebaikan terhadap masyarakat atau
sesame manusia.
2. Persatuan secara istilah artinya bentuk kecendrungan
manusia yang di wujud kan dalm bentuk kegiatan melakukan pengelompokan sesama
manusia menurut ikatan tertentu untuk mencapai tujuan.
3. Kerukunan secara istilah artinya satu tata pikiran atau
sikap hidup yang menunjuk kan kesabaran atau kelapangan dada menghadapi
pikiran,pendapat.
3.2 SARAN
Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi
penyusun dan bagi pembaca semuanya. Serta diharapkan, dengan diselesaikannya
makalah ini, baik pembaca maupun penyusun dapat menerapkan akhlak yang baik dan
sesuai dengan ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun tidak
sesempurna Nabi Muhammad S.A.W , setidaknya kita termasuk kedalam golongan
kaumnya.
DAFTAR PUSTAKA


Komentar
Posting Komentar